Senin, 8 Agustus 2005, 16:45 WIB -Berita Umum-
Makna Perdamaian Dalam Rapa-i Pase
Sumber : AirPutih
Beberapa pemuda dan tokoh masayarkat pergi ke hutan untuk mencari kayu tuwalang sebagai bahan dasar dari alat musik seperti rebana. Doa Sapa Kayee menyapa pohon terpilih yang akan diambil batangnya untuk digunakan alat musik. Demikian dokumenter yang diputar dalam acara Kampanye Aceh Damai di pelataran depan Pendopo Gubernur NAD. Rapa-i nama alat musik yang diciptakan pertama kali oleh Ahmad Rifai seorang ahli tasawuf. Syeh Abdul Qadir Jaelani memberi nama alat musik ciptaan Ahmad Rifai tersebut dengan nama rapa-i. Pada masanya rapai ditabuh agar menarik perhatian masyarakat untuk syiar agama Islam. Selain untuk syiar dalam sejarah Aceh rapai juga sebagai tanda bahwa peperangan telah dihentikan, ketentraman dan perdamaian sebagai lembaran baru telah dibuka.
Minggu (7/8) malam kain putih lebar sebelah panggung sebagai layar diputar film prosesi pembuatan satu alat musik rapa-i. Di pelataran depan pendopo tampil satu persatu seniman Aceh serta penyanyi Franky Sahilatua membawakan lagu di atas panggung. Rapa-i Pase Uroh Taloe Rod tema yang diusung dalam Kampanye Aceh Damai. Berturut-turut pidato perdamaian disampaikan oleh Ketua Dewan Pendiri Aceh Kita Foundation Todung Mulya Lubis, Menkominfo Sofyan Djalil dan Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid hadir pula pada malam itu Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, Pejabat Pelaksana Provinsi NAD, tokoh masyarakat, NGO serta warga Banda Aceh.
Sejarah mencatat sejak perjuangan merebut dan mempertahakan kemerdekaan melalui kepemimpinan anak bangsa seperti Teuku Umar, Cut Nyak Dien bumi Serambi Makkah dalam melawan penjajahan Belanda. Hingga saat ini tanah rencong masih diwarnai oleh konflik peperangan yang tak kunjung henti sehingga banyak menimbulkan korban jiwa. Bahkan gelombang bencana mahadahsyat yaitu gempa dan tsunami memporak-porandakan Nanggroe Aceh Darussalam. Tepat pukul 24.00 WIB (7/8) rapa-i pase ditabuh. Kampanye Aceh Damai memberangkatkan iring-iringan rapa-i pase melakukan perjalanan dari Banda Aceh menuju Peureulak. Malam itu aura tabuhan rapa-i pase terasa dengan makna perdamaian yang sangat mendalam. Meunyo ka dimeusu rapai uroe lageum dipiyoh dimeusu budee (senjata harus berhenti berbunyi jika rapai sudah dibunyikan). (imron)
Tinggalkan komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *
