Search

30.000 Hektar Lahan Gambut Diperkirakan Hangus

Senin, 20 November 2006 16:01:14 Kebakaran hutan 30.000 Hektar Lahan Gambut Diperkirakan Hangus Kategori: Kebakaran Hutan (10 kali dibaca) Jambi, Kompas - Kebakaran hutan dan lahan di Jambi yang terjadi selama empat bulan sejak Juli hingga Oktober 2006, diperkirakan menghanguskan lebih dari 30.000 hektar lahan. Sebagian besar yang terbakar adalah lahan gambut di Kabupaten Muaro Jambi. Lahan gambut yang hangus terbakar itu antara lain di kawasan konservasi Tahura (Taman Hutan Rakyat) Sekitar Tanjung dan Taman Nasional Berbak (TNB), hutan produksi eks HPH RKI, HTI PT Diera Hutani Lestari (DHL), HPH PT Putra Duta Indah Wood (PDIW), perkebunan PT Sumbertama Nusa Pertiwi (SNP), PT Makin, dan lahan masyarakat. Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Potensi Masyarakat Jambi (LP2MJ) Fitriani Ulinda mengemukakan hal itu hari Minggu (19/11). LP2MJ adalah lembaga swadaya masyarakat di Jambi yang bergerak di bidang perkebunan dan pemberdayaan masyarakat miskin di pedesaan. Angka yang berbeda dan lebih kecil dikemukakan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Jambi, Murjani Ahmad. "Perkiraan luas kebakaran lahan dan hutan yang terjadi Juli hingga Oktober lalu sekitar 6.500 hektar," ujar Murjani. "Hingga kini, laporan tentang kebakaran lahan dan hutan dari kabupaten belum seluruhnya masuk. Data yang ada belum dirinci; berapa luas gambut, hutan produksi, hutan lindung, areal perkebunan dan lahan masyarakat yang terbakar," tambah Murjani. Fitriani menyebutkan, lahan gambut yang terbakar sulit untuk pulih kembali. Pemulihan bisa berlangsung selama bisa belasan atau puluhan tahun. "Lahan bekas kebakaran juga akan menjadi langganan banjir. Contohnya, 15.000 hektar TNB yang terbakar pada tahun 1997, hingga kini belum bisa pulih," tambah Fitri. Dampak negatif berupa kerusakan lingkungan akibat kebakaran lahan dan hutan gambut yang terjadi di Kabupaten Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur, akan berlangsung lama. Permukaan lahan dipastikan turun sehingga akan terendam pada musim hujan. Akibatnya, lahan tersebut sulit dijadikan lahan pertanian. Wakil Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Mahendra Taher mengemukakan pula, fungsi ekologi lahan gambut yang terbakar menjadi terganggu. Padahal, lahan gambut berfungsi sebagai penyerap dan penyeimbang kandungan karbon, dengan oksigen di udara.((nat))   Sumber: kompas
Air Putih

Air Putih

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy