Krueng Simpo, 24 Desember 2025
Hari itu akhirnya tiba. Hari di mana tim relawan komunikasi darurat AP-RTIK harus bergeser ke titik penugasan selanjutnya. Ingatan saya masih tertuju pada momen keberangkatan; masih terbayang jelas raut wajah Mas Wamen saat melepas kami menyeberangi Jembatan Teupin Mane hanya dengan seutas tali baja. Kami membawa perlengkapan unit komunikasi darurat bantuan dari Kementerian KOMDIGI—sebuah amanah yang berat namun mulia.
Masih lekat dalam ingatan bagaimana rasanya bergelantungan di tali baja tersebut. Ada rasa bangga yang membuncah, sekaligus ketakutan yang menyeruak tanpa bisa dicegah. Dua puluh hari telah berlalu sejak tim relawan AP-RTIK pertama kali tiba di Masjid Al-Fajar, Posko Pengungsian Desa Krueng Simpo. Di sini, lebih dari 1.500 jiwa berjibaku dengan segala keterbatasan akibat bencana. Saat itu, akses komunikasi lumpuh total, bahkan kebutuhan pangan pun sangat minim. Putusnya Jembatan Teupin Mane akibat banjir bandang tidak hanya memutus akses transportasi, tetapi juga memutus jalur logistik. Tali baja yang membentang di atas arus sungai menjadi satu-satunya urat nadi harapan bagi warga untuk bertahan hidup.

Padamnya listrik dan terputusnya jaringan komunikasi membuat suasana bencana terasa kian mencekam. Dalam situasi genting itulah, kami relawan AP-RTIK hadir, berusaha membuka simpul isolasi bagi para pengungsi. Akses internet melalui perangkat Starlink bantuan KOMDIGI terbukti menjadi solusi instan. Perangkat kecil yang kami pasang itu kini menjadi saksi bisu hari-hari panjang di posko pengungsian. Ia merekam momen-momen haru saat warga kembali terhubung dengan keluarga mereka di luar sana, saling memberi kabar dan menguatkan. Ia juga menangkap tawa anak-anak yang sejenak melupakan trauma saat melihat konten lucu di layar. Lebih dari sekadar hiburan, akses internet ini menjadi alat koordinasi vital bagi aparat desa dan daerah dalam mempercepat penanganan darurat.
Kini, tiba saatnya tim relawan AP-RTIK berpamitan dari Desa Krueng Simpo. Kepergian kami bukanlah hal untuk disesali. Sebaliknya, ini adalah tanda yang patut disyukuri. Artinya, perlahan namun pasti, keadaan mulai pulih dan kehidupan mulai berproses menuju arah yang lebih baik. Harapan kami, estafet perjuangan ini dapat berlanjut ke titik-titik bencana lainnya untuk mempercepat pemulihan para korban.
Terima kasih, Krueng Simpo. Semoga semua segera pulih dan bangkit lebih kuat dari sebelumnya.

Ditulis oleh : Okta Setiawan
Disunting oleh : Nyco Dhana
Tinggalkan komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *
